<data:blog.pageTitle/> <data:blog.pageName/>

Thursday, August 27, 2009

Es Cuing Yang Melegakan

Pernah mendengar istilah cuing? Atau mungkin pernah merasakan es cuing?Ya, es cuing sebetulnya tak ubahnya dengan cincau hijau. Cara penyajiannya saja yang berbeda. Bila umumnya orang menjual es cincau dengan sirup yang dibuat dari gula putih, es cuing disantap dengan sirup gula merah, es serut dan siraman santan. Ciri khas lain, saat dimasak, sirup gula merah dicampur dengan sobekan daun pisang kering untuk memberi aroma. Rata-rata es cuing dijual 500 rupiah per gelas. Rasanya sungguh segar di tengah teriknya suhu udara Cirebon yang cukup menyengat. Cuing sendiri ternyata berasal dari desa Mirat, Kecamatan Leuwimunding, Kabuaten Majalengka. kawan, sebenarnya saya sudah lama menulis berita ini untuk media di lembaga tempatku bekerja, dan sudah terbit bulan Februari 2009 lalu. namun saya baru sempat nge-post-kan di blog ini sekarang. tepatnya, aku gak kepikiran untuk nge-post-kan. okay, dengan sedikit ditambahkan kata pengantar, aku tak ingin sekadar share cerita duka nasib kaum perempuan, so untuk sekarang aku potong dengan pengalaman lainnya. dan tentunya, sampai aku selesai menuliskan berita tentang persoalan perempuan lainnya.

foto of beautiful  majalengka pemandangan di gunung batu sinapeul
Desa Mirat: Daerah Produksi Cuing Terbesar, Kurang Perhatian Pemerintah
Memasuki jalan panjang menuju Desa Mirat, kita bisa merasakan hawa sejuk yang berasal dari pepohonan yang berbaris teratur di sepanjang jalan. Terutama angin dingin persawahan sekitar Leuwimunding. Hingga akhirnya sampai di Desa Mirat, kita bisa menyaksikan langsung sebuah desa yang di lingkari perbukitan terjal. Di desa Mirat inilah, cuing dibuat. Dimana 50% dari penduduknya sebagai pembuat sekaligus penjual cuing. Sedangkan 40% lainnya lebih lebih banyak sebagai pegawai dan petani, 10% sebagai pedagang yang menjual bahan baku cuing.
IMG_4117
Dalam proses pembuatannya, cuing dibuat dari daun cuing. Daun hijau yang tergolong lembut dan lunak. Dan jangan heran jika pertama kali memasuki perkampungan Mirat, kita akan menemukan daun cuing ditanam di depan rumah warga Desa Mirat. Konon, proses pembuatan cuing harus menggunakan air yang keluar dari tanah di Desa Mirat. Karena jika dibuat dari air daerah lain, maka hasilnya tidak lunak, tapi kenyal seperti jelly.
Kabupaten Majalengka sendiri, secara aspek hidrologis, memang mempunyai beberapa jenis potensi sumber daya air. Yang tentunya dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Di permukaan air, ada mata air, sungai, danau, waduk lapangan atau rawa. Sedangkan air tanah, ada sumur bor, pompa pantek dan air hujan. Adapun sungai-sungai yang besar diantaranya adalah Sungai Cilutung, Cideres, Cikeruh, Ciherang, Cikadondong, Ciwaringin, Cilongkrang, Ciawi, dan Cimanuk.

Pedagang Cuing Kurang Diperhatikan Pemdes
Di luar Kota Cirebon, selama ini es cuing dikenal sebagai salah satu minuman khas dari Cirebon. Minuman pelengkap makanan khas Cirebon, seperti nasi Jamblang, empal gentong, ketoprak, lontong sayur, dan makanan khas Cirebon lainnya. Menurut Mistani, salah satu penjual es cuing asal Mirat, cuing sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. Mistani sendiri telah menjalankan profesinya sebagai pedagang es cuing sejak tahun 1980-an.
Hanya bermodalkan uang senilai 20.000 rupiah sekaligus sepeda ontel, Mistani mampu membiayai kebutuhan hidup keluarganya. Hingga kini dia telah memiliki cucu, Mistani tetap bertahan sebagai penjual es cuing. Bahkan sejak tahun 2004, Mistani sudah mulai mencicil sepeda motor untuk menjalankan usahanya. Alhasil, untuk berkeliling menawarkan dagangannya, Mistani tak lagi menggunakan sepeda ontel.
IMG_0085 pa Mistani dan anak perempuannya yang sedang membantu membersihkan mangkuk tempat es cuing. dan di belakangnya, aku dan pa Agus sedang asyik ngobrol
.
Sayangnya, kemandirian warga selama puluhan tahun ini kurang didukung oleh pemerintah setempat. Tak pelak, meminjam modal kepada sesama pedagang sudah menjadi hal biasa di kalangan pedagang cuing. Selama ini para pedagang cuing juga belajar secara otodidak, belajar secara turun temurun dari keluarga. Di Mirat, tak ada satupun pedagang yang pernah mendapatkan bantuan, baik itu modal ataupun pelatihan untuk mengembangkan potensi usaha mereka.
“Selama ini pemerintah kurang respon, tidak ada yang namanya program pemerintah. Selama ini kami berjuang sendiri. Kalau ternyata kekurangan modal, biasanya kami kredit untuk membeli bahan dasar pembuatan es cuing,” ungkap Mistani, ketika ditemui Blakasuta pada Rabu.
Mistani juga mengaku hanya mengandalkan es cuing-nya, tidak jarang ada warga dari daerah lain yang belajar membuat cuing di Mirat. “Warga lain yang belajar membuat cuing di sini, biasanya juga mencari isteri di sini. Sehingga mereka bisa mempertahankan usahanya.
Sementara itu menurut Agus, salah satu warga Mirat, berharap agar pemerintah lebih memperhatikan potensi daerah yang bisa dikembangkan. “Dalam hal ini, pemerintah harusnya mampu menangkap peluang Desa Mirat sebagai potensi tersendiri. Mungkin tidak harus berupa materi, tetapi bagaimana agar mereka bisa meningkatkan kualitas produk, etos kerja, serta inisiatif untuk lebih mengembangkan usahanya,” ungkap dia. Karena, lanjut dia, sampai sekarang para penjual cuing ini minim perhatian pemerintah. Apalagi di tengah krisis global, mereka tak jarang harus pontang-panting cari modal atau bahkan meminjam modal.
(ditulis Oleh Alimah dalam majalah Blakasuta yang diterbitkan Fahmina Institute dengan judul “Desa Mirat: Daerah Produksi Cuing Terbesar Kurang Perhatian Pemerintah”)
Sumberhttp://menjadikosong.wordpress.com/2009/06/17/es-cuing/


1 comments:

ratna said...

cuing/cingcau...mending cendol elisabet ah