<data:blog.pageTitle/> <data:blog.pageName/>

Thursday, August 27, 2009

Mie Koclok cirebon



Mie Koclok khas Cirebon, yang legendaris, rasanya rada susah kecuali sudah terbiasa.
Readmore »

Rujak Donggala Cirebon






Di Cerebon, rujak ada macam-macam: rujak manis (buah, yang umum disebut rujak), rujak janganan (kayak lotek, isinya sayur, bumbunya kacang, beda dikit ama lotek, suka ada yang pake mie basah), rujak sambel asem (sambelnya pake petis, tanpa kacang, isinya kangkung, toge dan timun), rujak donggala (asinan sayur dan buah), rujak uleg (campuran sayur + buah, bumbu kacang + pisang mentah, merucu banyakan), rujak merak (asinan sayatan + serutan pepaya muda).
Readmore »

Wednesday, August 26, 2009

Pasar Pisang Kalitanjung


Sejumlah pedagang kaki lima di sepanjang Jl Kalitanjung saat ini mulai kembali menjajakan dagangannya tidak hanya di trotoar tapi juga sudah masuk ke badan jalan.

Penertiban pedagang kaki lima oleh Satpol PP beberapa bulan lalu tampaknya hanya gertak sambal buat para pedagang. Meskipun pada penertiban terdahulu petugas melakukan pengangkatan sejumlah lapak dan mengancam keras akan membongkar paksa jika kembali jualan di jalan, namun hal itu tampaknya hanya berlaku sebentar saja.
Pantauan BeritaCerbon.com, beberapa pedagang rambutan, pedagang pisang sampai pedagang VCD dan DVD bajakan menggelar dagangannya seenaknya.
Kondisi ini juga terjadi di sepanjang Jl Kanggraksan hingga Pasar Harjamukti. Akibatnya saat pagi hari terutama hari Minggu dan libur arus lalu lintas di dua jalan tersebut menjadi macet karena banyaknya pengunjung.
pasar kalitanjung sekarang berbeda dengan pasar kali tanjung yang dulu, sekarang disebut pasar Harjamukti

sumber http://www.beritacerbon.com
Readmore »

Pasar Kue Plered Cirebon

Bila hendak menuju Kota Cirebon dari Bandung atau Jakarta, melalui pertigaan Palimanan, Anda akan menyaksikan Jln. Raya Plered yang tetap ramai. Kegiatan bongkar muat segala bentuk jajanan, di kiri dan kanan ruas jalan sepanjang lima ratus meter, berlangsung sepanjang hari.
Mobil boks atau truk terbuka memenuhi bahu jalan. Puluhan buruh bongkar muat, sepanjang pagi hingga petang, lalu lalang membawa tumpukan berbagai jenis jajanan.
Kesibukan Pasar Kue Plered yang sering membuat lambat laju arus lalu lintas di Jln. Raya Plered-Palimanan-Bandung, menunjukkan pasar itu tak terpengaruh terpaan krisis global. Sirkulasi uang di pasar itu, seperti dituturkan H. Hendra Sastra (59), Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kecil dan Kerajinan (APIKK), setiap harinya mencapai puluhan miliar rupiah.
"Sejak tahun 1995, Pasar Kue Plered makin ramai. Krisis moneter sebelum reformasi maupun krisis global sekarang tak sedikit pun berpengaruh. Pasar ini tahan, mungkin, karena hanya mengandalkan pasar lokal, bukan ekspor," ungkapnya.
Pasar Kue Plered memang menjadi magnet yang memiliki daya sedot tinggi. Tak hanya bagi wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan), bahkan telah melebar sampai ke seluruh Pulau Jawa. Untuk jenis kue atau jajanan ringan, pasar yang digerakkan oleh lebih dari seribu pedagang kecil dan menengah itu merupakan yang terbesar.
Berbagai jenis kue kering, kue basah, permen, kerupuk, makanan anak-anak , serta ribuan jenis jajanan ringan lain bertumpuk di pasar tersebut. Boleh jadi, pasar ini merupakan titik sentral dalam lalu lintas berbagai jenis makanan ringan sebelum dipasarkan ke daerah lain. 
MESKI terlihat berkembang pesat, Pasar Kue Plered tetap dihadapkan pada sejumlah persoalan. Salah satunya adalah gempuran dari industri makanan skala nasional. Hal itulah yang kemudian membuat ribuan industri makanan rumahan goyah. Hal itu bisa terlihat dari kenyataan yang berlaku di sejumlah desa sentra makanan, seperti Setu Wetan, Setu Kulon, Megu, Weru Lor, Weru Kidul, dan sekitarnya.
Fenomena tersebut mulai terasa sejak memasuki tahun 2000, di mana pabrik-pabrik makanan besar juga meniru apa yang dilakukan para pelaku bisnis rumahan di sana.
Pabrik-pabrik makanan berskala besar, kini, sama-sama mengeluarkan produk dalam kemasan kecil (sachet). Akhirnya, terjadilah perebutan pangsa pasar, kemasan sachet yang dulu dirintis industri rumahan setempat harus bersaing dengan produk pabrik.
Contohnya mi instan yang dikemas dalam bungkusan kecil, kini, pabrik besar juga mengeluarkan produk dan kemasan sama. Demikian juga halnya dengan kue kering, biskuit bermerk dijual dalam kemasan berisi tiga butir kue. Semua itu, dulu, merupakan trade-mark industri makanan rumahan di Plered.
"Sekarang, pabrik-pabrik makanan modern meniru. Terjadilah persaingan yang tak seimbang. Tentu saja, yang terjadi kemudian adalah pelaku industri makanan Plered yang terdesak," tutur Hendra.
Secara umum, Pasar Kue Plered terus berkembang. Hanya, bedanya, jenis makanan produk pabrik besar lebih dominan dibandingkan dengan jajanan khas yang diproduksi masyarakat Plered secara tradisional dan turun-temurun.
Pasar Kue Plered semula diadakan sebagai tempat memasarkan berbagai produk olahan makanan ringan oleh warga setempat. Dalam perkembangannya, karena pasar itu bertambah besar, produk makanan ringan dari berbagai pabrik besar berdatangan. Oleh karena itu, fungsi awal pasar sebagai tempat memasarkan produk olahan industri makanan rumahan warga setempat berubah menjadi pusat pertemuan produk makanan dari berbagai daerah. Kondisi terakhir ini sangat menguntungkan para pedagang dan grosir. Sebaliknya, itu justru menjadi bak lonceng kematian bagi industri rumahan.

Masalah Pasar Kue Plered ini sebenarnya bukanlah persoalan baru. Sebab, sebelum tahun 80-an pusat distribusi kue besar di Indonesia ini hanya tempat penjualan kue-kue lokal saja. Namun setelah era itu, pasar tersebut berubah menjadi pusat penganan yang ramai dikunjungi pelanggan dari berbagai daerah. Bahkan sejumlah makanan ringan dari Jakarta, misalnya, juga dikirim lewat Pasar Plered dan disebar hingga ke luar Pulau Jawa. Para pedagang kue di sentra makanan ringan itu omzetnya rata-rata Rp 5 juta untuk kios kecil dan Rp 50 juta untuk pedagang besar.


Readmore »

Pasar kanoman Riwayatmu

Masuk ke Pasar Kanoman, terasa suasana keratonnya masih kental. Terlihat dari beberapa ornamen lampu jalan misalnya. Nah, begitu masuk lorong-lorong pasar, baru deh terasa bau khas pasar tradisional. Kalau dihitung-hitung, mungkin sudah ada 8 tahun saya tidak pernah menginjakan kaki ke pasar tradisional.Sebetulnya rata-rata apa yang dijajakan di pasar tradisional juga ada di jual di supermarket-supermarket ternama. Jadi kalau untuk saya, agaknya tidak ada alasan yang kuat mengapa harus berbelanja di pasar tradisional. Mending di supermarket, tidak bau, tidak pengap dan sejuk. Tapi biar bagaimana, pasar tradisional ya tetap saja memiliki pelanggan juga. Saya sendiri sih yakin, sebagian besar anak muda sekarang pasti malas masuk pasar tradisional
Di Cirebon sendiri, ada beberapa pusat perbelanjaan kategori menengah atas, yaitu Grage Mall, Alfa, dan Yogya Toserba. Sebentar lagi akan dibangun Cirebon Super Blok. Katanya ini akan menjadi perbelanjaan terbesar di Cirebon. Letaknya hampir berdampingan dengan Alfa. Tidak didapat informasi, apakah akan ada hyperstore macam Carrefour atau tidak di Cirebon Super Blok tersebut? Tapi kalau ada, ya siap-siap saja mal-mal lainnya kebakaran jenggot menghadapi serangan hypermarket tersebut. Kalau mal-mal yang sudah ada saja bisa ketar-ketir, apalagi dengan pasar dan toko tradisional? Saya sempat berkeliling dan melihat ada beberapa pertokokan di Cirebon yang tutup

TEMPO Interaktif, Cirebon: Pasar Kanoman yang terletak di Kota Cirebon akan direvitalisasi menjadi pasar wisata budaya. Anggaran senilai Rp 1,3 miliar pun sudah disiapkan.Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar, Agus Gustiar, saat kunjungan Wakil Gubernur Jabar di Kota Cirebon.
 
Pasar  Kanoman di pusat Kota Cirebon, kini  menjadi  salah satu  sentra  perdagangan bagi masyarakat  setempat.  Sebagaimana pasar,  maka  seluruh  barang  kebutuhan  masyarakat   keseharian dijajakan,  dari  mulai buah-buahan, sayuran sampai  pada  barang kebutuhan rumah tangga lainnya.
Bahkan  untuk  ukuran Cirebon dan daerah di Wilayah  III  Cirebon lain  meliputi  Kab Indramayu, Majalengka  dan  Kuningan,  selain masyarakat  Cirebon  sendiri  (kota  dan  kabupaten:Red.),  Pasar Kanoman  dikenal  memiliki  ciri  tersendiri.  Yakni  pasar  yang menyediakan  segala  macam buah lokal, serta pasar  khusus  untuk segala macam kain atau konveksi.
Bersama  perjalanan waktu, seiring dengan mewabahnya  gaya  hidup hedonis dan konsumtif masyarakat Cirebon, ketika orang  berbicara "Kanoman", maka asosiasi yang pertama muncul di benak  masyarakat ialah  pasar.  Sebuah  fasilitas umum  yang  menyediakan  beragam barang  kebutuhan, bagi rata-rata wanita di Wilayah III  Cirebon,
asosiasinya bahkan lebih spesisik lagi, yaitu pusat  perbelanjaan kain dan segala macam barang konveksi.
Kanoman  di  benak  masyarakat  tidak  lagi  diidentikan   dengan kerajaan  atau  kesultanan.  Bahkan  sebagian  besar   masyarakat mengaku tidak tahu kalau kata "Kanoman" atau "Pasar Kanoman"  itu mengambil  dari nama sebuah kerajaan (kesultanan), tidak  sedikit masyarakat  yang mungkin belasan kali belanja di  Pasar  Kanoman, tapi  tidak  tahu kalau di belakangnya itu  ada  sebuah  bangunan besar berusia ratusan tahun yang bernama Keraton Kanoman.
Hal  di  atas  menunjukan bahwa  Keraton  Kanoman,  atau  Kanoman sebagai sebuah entitas kekuasaan tradisional (kesultanan),  sudah sedemikian kalah pamor dibanding dengan pasar yang justru usianya jauh  lebih  muda.  Keraton Kanoman yang  dirintis  abad  13  dan dibangun  Pangeran  Kartawidjaya atau Sultan Kanoman I  pada  thn 1677, sepertinya telah kehilangan aura kekuasaannya.
Padahal,   Keraton  Kanoman  pada  masa  lalu   memiliki   cerita kepahlawanan  tersendiri.  Bahkan  diantara  keraton-keraton   di Jabar,  khususnya  Cirebon,  Kanoman  satu-satunya  keraton  yang secara  politik  dan militer ernah sangat ditakuti  dan  disegani pemerintah kolonial Belanda.
Pada  masa lalu, Kesultanan Kanoman menjadi pusat dari  peradaban Islam  di  Cirebon. Dari keraton yang memiliki luas sekira  5  ha itu,  keturunan  Sunan  Gunung Djati  atau  yang  disebut  dengan Kanjeng Sinuhun Djati, terus melakukan penyebaran Agama Islam.
Dari keraton itu pula, lahir beberapa ahli agama yang berdiam  di Pengguron  Keprabonan  (bagian dari Keraton  Kanoman),  antaranya yang  mashur ialah Syekh Sholeh Benda Kerep. Ahli-ahli agama  itu juga  merintis berdirinya pesantren-pesantren besar  yang  sampai sekarang  sangat disegani, antaranya Buntet,  Gedongan,  Babakan,
Ciwaringin sampai Kempek.
Dari  pondok-pondok  pesantren  itu,  berbagai  ilmu  agama  atau pengetahuan umum lain disebarkan. Sampai kemudian lahirlah putra-putra  bangsa  pilihan  yang berani secara  politik  dan  militer menentang dominasi kolonialisme Belanda. 
Pada  masa  silam, Keraton Kanoman menjadi  semacam  "duri  dalam daging"  bagi  penjajah  Belanda.  Gerakan  perlawanan   terhadap
Belanda, banyak disponsori dan disokong oleh pejuang-pejuang dari Keraton  Kanoman,  termasuk  para  sultan  dan  punggawa-punggawa keraton tersebut. Perlawanan  dari  Keraton Kanoman membuat Belanda  kerepotan  dan kewalahan.       Apalagi,  gerakan perlawanan  itu  memperoleh  banyak simpati  dari  masyarakat  Cirebon,  dan  yang  paling  ditakuti, perlawanan Keraton Kanoman itu akan mempengaruhi  keraton-keraton lain di Cirebon seperti Keraton Kasepuhan.
Karena   itulah,  Belanda  terpaksa  harus  melumpuhkan   Keraton Kanoman,  secara  politik maupun militer.  Dengan  berbagai  cara dilakukan  Belanda  melumpuhkan pengaruh  Keraton  Kanoman,  dari mulai  politik pecah belah (devide et impera) sampai cara  paling kasar,  ialah  pemaksaan  dibangunnya pasar  dan  gedung  bioskop persis di depan alun-alun Keraton Kanoman.
Dengan dibangunnya pasar, Belanda ingin memutus jaringan  Keraton Kanoman  dengan kelompok-kelompok perlawanan. Melalui  pasar  itu pula,  Belanda  lebih  leluasa  melakukan  infiltrasi   mata-mata (telik  sandi)  untuk  memantau  serta  menyerap  informasi setiap gerakan Keraton Kanoman.
Mengenai  bioskop  yang sekira thn 1975,  dibongkar  jadi  gedung pasar kain berlantai II (namanya Bioskop "Garuda"), Belanda ingin meruntuhkan moral masyarakat di sekitar keraton (magersari)  yang dicurigai  sebagai pejuang perlawanan Belanda. Penjajahan  budaya ala Belanda dilakukan secara intensif, yakni dengan memutar film-film bernuansa barat.
Pendeknya,  Keraton Kanoman telah dijepit secara politik,  sosial maupun  kebudayaan. Usaha Belanda itu ternyata  berhasil,  dengan adanya  pasar  yang  mendatangkan kotoran  dan  kekumuhan,  serta gedung bioskop yang meruntuhkan moral masyarakat Magersari maupun Cirebon umumnya, Keraton Kanoman akhirnya terkucil.
Pergerakan perlawanan terhadap Belanda pun reda bersamaan  dengan makin  berkembangnya pasar dan gedung bioskop.  Masyarakat  tidak lagi  mempedulikan  soal penjajahan, mereka  lebih  suka  melihat film-film  Eropa, di sisi lain, jaringan Keraton  Kanoman  dengan pejuang-pejuang anti Belanda menjadi putus.
Sejak  Belanda melakukan pembunuhan kultural dan politik  itulah, kegagahan Keraton Kanoman hilang. Pamornya pun kemudian  memudar, Kesultanan Kanoman yang semula disegani menjadi penyokong gerakan perlawanan  terhadap Belanda, menjadi lebih sibuk dengan  urusan-urusan  internal,  sejak itu pula, benih-benih  konflik  diantara para kerabat dan keluarga Sultan Kanoman mulai tumbuh subur.
Readmore »

Tuesday, August 25, 2009

Kinerja Wakil Rakyat Cirebon

Kinerja Wakil Rakyat

Jangan membayangkan ada debat sengit dalam sidang pembahasan rancangan peraturan daerah di Kabupaten Cirebon, apalagi ada aksi walk out. Hampir rata-rata rapat, termasuk sidang paripurna yang berlangsung di pengujung masa bakti 45 anggota DPRD, hanya diwarnai satu kata "sepakat". Satu kata yang membuat pembahasan menjadi lebih cepat selesai.

Jadwal para wakil rakyat memang padat akhir-akhir ini, dari membahas 16 raperda, menyelesaikan tugas panitia khusus di antaranya membahas rencana pembangunan jangka menengah daerah dan dukungan pembentukan provinsi Cirebon, hingga kunjungan kerja. Semuanya harus sudah selesai sebelum akhir masa jabatan mereka atau sekitar Agustus. Pembahasan pansus pun bahkan dilembur hingga malam.

"Kami tidak ingin menyisakan pekerjaan rumah bagi anggota Dewan yang baru. Selagi masih bisa, ya kami kerjakan," kata Yoyo Siswoyo, anggota DPRD dari PDI-P, Rabu (1/7) di kantornya.

Hasilnya, 16 raperda akhirnya bisa diselesaikan dalam waktu kurang dari sebulan, bahkan dua pekan, tetapi memang minim perdebatan. Soal mutu, menurut Muslich Marzuki, anggota DPRD dari Fraksi Keadilan Sejahtera, tetap menjadi prioritas. Selama ini Muslich berpedoman pada komitmen terhadap masyarakat. Jadi, jika isinya sudah mewakili kepentingan warga, diksi atau bahasa dalam perda tidak akan banyak dipermasalahkan.

"Contohnya saja waktu mengurus KTP, selama ini bisa satu bulan. Intinya kan maksimal 14 hari mengurus KTP, ya itu yang kami kejar. Ketika isinya sudah demikian, ya sepakat saja," katanya.

Namun, menurut Mukhamad Naufal dari Fraksi Kebangkitan Bangsa, waktu yang singkat tidak cukup untuk membahas persoalan dalam perda ataupun pansus. Jika dipaksakan, hasilnya tidak akan maksimal.

Salah satu contohnya adalah pembahasan rencana pembangunan jangka menengah daerah yang ditangani pansus. Menurut Naufal, sering kali ditemukan data yang tidak valid, padahal waktu pembahasan hanya tiga hari. Data tentang jumlah penganggur yang dijadikan pertimbangan, misalnya, bersumber dari penganggur yang mendaftarkan diri sebagai pencari kerja di Kantor Dinas Tenaga Kerja. Adapun penganggur yang tidak terdaftar tentu tidak akan masuk data.

Minim survei

Yoyon Suharyono, pemerhati lingkungan yang juga Ketua Presidium Environmental Parliament Watch Cirebon mengakui, perda hasil kebut semalam tidak akan banyak membawa manfaat. Perda tentang rencana tata ruang dan wilayah yang dibuat tahun 2005 adalah salah satunya. Menurut dia, perda itu dibuat dengan sosialisasi dan survei minim. Akibatnya, ketika diterapkan, perda itu seolah hanya pajangan.

Yoyon khawatir perda yang digarap dengan cara sistem kebut semalam juga akan bernasib sama. Kekhawatiran ini mungkin akan bertambah jika melihat bagaimana rapat pembahasan raperda itu dilakukan. Dalam rapat paripurna pengesahan 16 raperda, misalnya, suasana gedung sepi.

Dari 45 anggota DPRD, hanya 26 anggota yang hadir. Ruang sidang yang bisa memuat sekitar 150 orang pun terlihat kosong. Kondisi seperti itu tidak hanya sekali terjadi. Jika demikian, bagaimana bisa perda yang dihasilkan bisa membawa banyak perubahan? (Siwi Yunita Cahyaningrum)
Sumber: Harian Kompas, Kamis, 02 Juli 2009
Readmore »

Info Lowongan Kerja di Cirebon

PT. TRIDAYA DIMENSI
Kami adalah mitra kerja Bank Bukopin, membutuhkan banyak kandidat yang memiliki semangat kerja tinggi dan menyukai tantangan untuk daerah Karang ampel Cirebon, Pasar Perumnas Cirebon dan Pasar Pagi Cirebon.
untuk diposisikan sebagai :
  1. Kepala Unit Micro (Ka. Unit)
  2. Marketing Officer Mikro (MO)
  3. Administrasi Kredit (SO)
  4. Collector (Col)
  5. AO Supervisi (AOS)
  6. Relationship Officer (RO)
Kualifikasi :
  • Pria atau Wanita (1-6)
  • Usia Max. 32 th (1 & 6), 30 th (2-5)
  • Pengalaman dibidangnya min. 1 tahun
  • Pendidikan min. D3/S1 & S1 Hukum (2)
  • Menguasai penggunaan komputer (Word & Excel)
  • Memiliki sepeda motor dan SIM C (1-6)
Lamaran ditujukan kepada PT. Tridaya Dimensi, sertakan CV, copy Ijazah, Trancrip nilai terakhir, copy KTP yang masih berlaku dan Pasfoto berwarna ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar. Cantumkan kode di sudut kiri amplop. ke :
PT. TRIDAYA DIMENSI INDONESIA
d/a STIBA INVADA JL. Brigjen Darsono No. 20, By Pass Cirebon 45153
Up. Bpk. Rusmadi - Puket I
Telp. 0231-3388321, Fax. 0231-209669
email: stibainvada@gmail.com This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it www.tridaya-dimensi.com
Anda akan mendapatkan gaji pokok, tunjangan makan & transport, insentif, bonus, training produk dan jenjang karir menjadi karyawan tetap bagi yang berprestasi.
Walk in Interview:
Selasa s/d Kamis (8,10 September 09)  Pukul 09.00 - 15.00 wib.
sumber http://stibainvada.ac.id
Readmore »