<data:blog.pageTitle/> <data:blog.pageName/>

Wednesday, September 9, 2009

Geyongan, Kenapa demikian - Cirebon (kota Udang)

nama tempat pada umumnya diambil dari suatu peristiwa / kejadian atau nama orang yang fenomenal yang terjadi di tempat itu dan oleh orang kejadian itu biasanya dijadikan nama tempat untuk mengenang peristiwa atau nama seseorang tersebut.
Cerita sejarah ini berawal dari seorang sarjana Panama yang sedang melakukan penelitian tentang kebudayaan Cirebon dan lagi berkunjung ke Komplek Pemakaman Sunan Gunung Jati untuk pengumpulan data dan informasi sebagai bahan penulisan Tesisnya. Komplek pemakamam Sunan Gunung Jati adalah tempat makam dimana Sunan Gunung Jati dan Keturunannya (Sultan-Sultan Cirebon) dan para pembantunnya/Ki Gede disemayamkan.
Setelah sekian lama dia berkeliling di komplek pemakaman tersebut dia tertarik pada salah satu makam yang baginya agak ganjil dimana pada batu nisan makam tersebut tidak diberi nama indentitas dibandingkan dengan yang makam lainnya, maka bertanyalah si sarjana tersebut kepada pemandu atau yang biasa disebut Jeneng " Ini makamnya Siapa ? " Si pemandu tidak bisa menjawab padahal dia mengetahui jawabannya, kemudia jeneng menyarankan agar bertanya saja pada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Cirebon. Pada keesokan harinya sarjana tersebut bertandang ke Kantor Dinas P dan K kota Cirebon menanyakan perihal makam yang tidak punya nama itu di Komplek pemakaman Sunan Gunung Jati, di Kantor Dinas P dan K ia juga tidak mendapatkan jawaban yang jelas dan memuaskan kemudian Dinas P dan K Kota Cirebon menyarankan agar bertanya pada para orang tua Desa Geyongan. Maka berangkatlah Ia ke Desa Geyongan dan bertemu dengan Bapak H. Markina dan inilah ceritanya selengkapnya.
Sahdan yang punya cerita disuatu malam didalam salah satu keraton Kesultanan Cirebon sedang mengadakan acara kesenian Tayuban atau sejenisnya yang dihadiri Sultan dan para pembantunya serta tidak ketinggalan para penari tayub (ronggeng), konon penari tayub itu diambil dari beberapa desa/pedukuhan terpilih tentu dengan persyaratan sangat ketat sudah barang tentu harus cantik, bahenol, pinter menari dan menyanyi pelog. Sudah merupakan tradisi kraton jaman dulu, keraton selalu mengadakan acara kesenian tayuban untuk menyenangkan hati Sultan dan pembesar keraton, sampai sekarang para penabuh gamelan hingga keturunannya selalu setia terhadap Sultan Cirebon.
Pada malam itu Sultan kelihat muram dan tidak semangat untuk melihat dan menari entah apa yang beliau pikirkan, maka bertanyalah si Sultan pada Tumenggung kepercayaannya " Ehh .. tumenggung kenapa si Anu itu tidak datang ? Tumenggung terdiam tidak bisa menjawab . Sudah sebulan dia tidak lagi menemaniku untuk menayub sergahnya . Matur tulung Sinuhun , saya juga tidak mengetahui kedaannya, jawabnya jawab Tumenggung", yah sudah kalau begitu saya utus kamu untuk mencari tahu tentang keberadaan si Anu, kata Sultan. Si anu itu adalah seorang penari tayub konon merupakan kesayangan Sultan, yang mempunyai paras cantik berasal dari pedukuhan anu (red : sekarang Desa Geyongan), waktu itu pedukuhan geyongan sudah ramai dan banyak penduduknya (link : cerita Sejarah Desa Geyongan). Keberadaan si Anu dan identitasnya hingga saat ini masih sangat misteri belum ada yang mengetahuinya, siapa gerangan ?
Singkat cerita Tumenggu itu berangkat ke Desa Geyongan untuk mencari tahu keadaan si penari tayub itu dengan berkendaraan kuda melewati jalan yang ada sekarang (dremaga lor). Setelah sampai di pedukuhan Geyongan si Tumenggung tadi tidak langsung menuju ke tempat si Nyai penari tapi mampir dulu beristirahat untuk melepaskan lelah setelah menempuh perjalan jauh dari Cirebon ke Geyongan di sebuah belik untuk memberi minum kuda sekalian minum atau sekedar cuci muka dan kaki. Belik itu adalah sumber mata air (tuk : bhs Cirebon) yang oleh orang dibuat kolam atau sumur dan dipergunakan orang untuk keperluan mandi dan sumber air minum biasanya letaknya ditepi jalan (toang) atau sawah. Keberadaan belik saat ini masih baik dan masih dipergunakan oleh masyarakat untuk mandi dan air minum, terletak di blok Kidas Desa Kebonturi yang merupakan peninggalan pedukuhan Kidas dan tidak jauh dari Simpang Tiga Jenun - Geyongan Kec. Arjawinangun.
Kebetulan waktu itu masih agak siang, jadi tidak ada salahnya untuk beristirahat (Ngaso bhs jawanya) pikir tumenggung. Sebelum ngaso si Tumenggung memotong bambu, waktu itu disekitar belik masih banyak bambu untuk dibuat semacam ayunan. Tanpa disadari setelah sekian lama berayunan terasa kantuk menghinggapi si Tumenggung. Gelise wong crita bobade wong kanda “ maka tertidurlah si Tumenggung tadi diatas ayunan sampai sore hari ", yah pantes saja dia tertidur selain kondisi dia lagi cape keadaan di belik juga mendukung sudah udaranya segar juga hembusan anginnya yang semliwir (sepoi-sepoi) siapapun orangnya pasti akan ngatuk dan tertidur. Menjelang waktu asyar " gragap " terbangunlah ia dan dengan tergopoh-gopoh menaiki kuda menuju ke rumah si Nyai penari di pedukuhan geyongan.
Singkat kata sampailah ia di rumah si Nyai penari, kedatangannya disambut dengan sopan dan senyuman manis sebagimana gadis desa yang lugu menyambut para pembesar dari keraton, langsung dia dihidangi air putih dan rebusan Boled (Ubi jalar) dan Campu (Umbi Batang/Singkong). Mangga gusti kula suwunakan mlebet teng gubuk kula ( silahlakan gusti untuk masuk ke rumah saya) kata si penari, tumben gusti mboten pranti-pranti nyambangi griya kula apa wenten wigatos sing sanget, timpal si Nyai penari. Begini Nyai sergah si Tumenggung, saya diutus oleh Kanjeng Gusti Sinuhun Sultan untuk mencari tahu keadaan Nyai, karena sudah sebulan Nyai tidak sambang ke Keraton untuk penari. Memang ada apa Nyai ? tanya si Tumenggung. Si Nyai cuma hanya bisa diam tidak bisa menjawab sekatapun, wajahnya tertunduk malu raut muka penuh rasa takut dan khawatir maklumlah gadis desa berbicara dengan penggede keraton. Lama sudah Tumenggung menanti jawaban si Nyai tapi Nyai tetap tidak bisa bicara sekatapun, maka bertanyalah lagi “ Ada apa Nyai ? bicarah Nyai sejujurnya “. Si Nyai tetap juga tidak bisa menjawab cuma bisa menjawab dengan bahasa isyarat yaitu dengan mengelus-elus perutnya yang sedang membesar itu. Sasmitane Tumenggung mengertilah apa yang diisyaratkan oleh Nyai , baiklah Nyai sekarang aku baru mengerti jawabanmu. Setelah sekian lama berada di rumah Nyai Penari berbicara ngalor-ngidul, menjelang sore wayah surup pulanglah Tumenggung tadi ke Cirebon dengan berpesan pada Nyai agar selalu menjaga kesehatan dan menjaga kandungannya.
Singkat cerita sampailah si Tumenggung di keraton Cirebon dan langsung melapor hasil perjalanannya mengunjungi si Nyai Penari itu, dengan tergopoh-gopoh laporlah ia ke Sultan . Sebelum sempat bicara melaporkan diri , Jumeneng Sultan langsung bertanya , “ Tumenggung kenapa kamu lama sekali baru menghadap saya, apa pedukuhan itu jauh sekali ? “ sergah Kanjeng Sultan “ . Matur Kanjeng Sultan kalau jauh sih tidak yah kurang lebih 2 jam perjalanan naik kuda letaknya sebelah utara dari tempatnya Ki Gede Palimanan, tempat itu belum ada namanya Kanjeng Sultan “ jawab Tumenggung. Iya… menurut hitungan saya kamu lama sekali datang melapor , sampai malam begini, kemana saja kamu ? Nganclong kemana ….. “ hardik Kanjeng Sultan. Aduh Kanjeng Sultan, pangapunten sing agunge pangapura kula, sebenernya saya tidak nganclong kemana-mana saya tadi tertidur sewaktu istirahat di Belikan hingga sore hari baru saya terbangun. Loh.. koh bisa tertidur memangnya kenapa ? Maaf Kanjeng Sultan, waktu di tempat itu saya membikin Ayunan dari bambu untuk duduk sambil istirahat tak terasa saya teridur, timpal Tumenggung. Ohh…. begitu ceritanya, baiklah kalau begitu karena pedukuhan itu belum punya nama maka tempat itu saya namakan Geyongan, sejak saat itulah pedukuhan itu dinamakan Geyongan hingga saat ini. Kata Geyongan sendiri diambil dari kata Ayunan padanan kata Geyongan. Adapun makna kata Geyongan adalah suatu alat yang terbikin dari kain atau bahan lainnya yang diikat dengan tali dan digantung biasanya digukanan untuk menidurkan bayi/anak, alat itu sudah sangat lajim digunakan masyarakat Cirebon.
Melanjutkan cerita tadi… terus bagaimana keadaan Nyai, Tumenggung ? tanya Kanjeng Sultan lagi. Begini Kanjeng Sultan, sebelumnya saya minta maaf barangkali laporan saya ini lancang dan pamali . Sebenarnya Nyai tidak sakit atau tidak kurang apapun semuanya sehat, Kanjeng .. , ayo teruskan laporanmu sergah Kanjeng Sultan penasaran. Ternyata setelah saya tanya dan lihat, Nyai saat ini sedang mengandung/hamil. Terkejutlah wajah Sri Sultan mendengar laporan itu, baiklah kalau begitu saya mengerti apa yang harus saya lakukan, Tumenggung untuk itu saya tugaskan kembali kepadamu untuk selalu mengawasi dan menjaga keadaan Nyai penuhi kebutuhan hidupnya jaga kesehatannya dan jaga keamanannya, perintah Kanjeng Sultan. Sumangga derek dawuh Kanjeng, timpal Tumenggung. Sejak saat itulah Nyai penari menjadi tanggungjawab dan pengawasan Tumenggung sampai melahirkan.
Delapan bulan kemudian si Nyai melahirkan jabang bayi perempuan di pedukuhan Geyongan, karena kehendak Allah. SWT bayi tersebut tidak panjang umur meninggal dunia sewaktu masih bayi dan dikubur/disemayamkan di pekuburan Desa Geyongan serta petilasannya juga dibuat di komplek pemakaman Sunan Gunung Jati. Karena beliau masih keturunan Sultan Cirebon oleh Sultan diberi gelar Nyi Ratu, sehubungan dia meninggal dan disemayamkan di Geyongan orang menyebutnya atau dijuluki Nyi Ratu Geyongan dan dihormati sebagai Ki Buyutan karena diduga mempunyai kharomah dan keramat. Saat ini makam Nyi Ratu Geyongan pada malam-malam tertentu terutama pada sore dan malam Jum’at banyak dijiarahi orang, sekedar untuk berdoa dan haulan bahkan dijadikan tempat menyepi/sunyaragi untuk mendapatkan kharomah dari-Nya.
Demikian cerita asal usul nama Geyongan, kepada semua pihak terlepas dari tidak atau validnya cerita ini saya mohon maaf. Tujuan saya menulis ini hanya sekedar menyambung lidah lewat tulisan dari cerita yang beredar di masyarakat, saya menyadari kelemahan bangsa ini bahwa kebanyakan suatu kejadian atau peristiwa tidak terdokumentasikan dengan baik.
Readmore »

Asal Usul Nama Tempat Di Cirebon (kota Udang)

Contoh uraian ini menunjukkan pola penamaan suatu tempat yang diambil dari berbagai hal, yaitu;
A. Nama Flora
Mandu,dulunya banyak pohon mundu.
Gambira, kebonpring, dulunya banyak pohon bambu.
B. Nama peristwa
Pronggol, banyak pohon yang ditebangi oleh pasukan Mataram untuk markas.
Pagajahan, banyak terdapat gajah-gajah pemberian luar negeri ke Cirebon.
Peklutukan, terdapat mata air yang mendidih keluar dari tanah.
C. Fungsi tempat
Pabean, pelabuhan.
Pelandratan, tempat pengadilan di Cirebon.
Jagabayan, tempat penjaga keamanan.
Pekawatan, tempat persediaan kawat telpon.
D. Nama Jabatan
Kasepuhan, tempat Sultan Sepuh.
Kanoman, tempat Sultan Anom.
Dari data toponimi yang ada, Cirebon merupakan suatu kota yang sudah lama berkembang. Nama-nama diatas menunjukkan suatu masyarakat kota yang kompleks, dengan berbagai macam profesi, suku, status dan aktifitasnya.
Jumlah penduduk kota Cirebon merupakan tergolong cukup banyak. Berbeda dengan Banten Lama yang perkembangan kotanya beralih ke daerah sekarang yang sekitar 14 km dari Banten Lama. Di Cirebon perkembangan kota terjadi di lokasi semula dan meluas ke daerah sekitarnya. Hal ini pula yang menyebabkan suatu tempat tidak identik lagi dengan namanya. Kini data toponimi Cirebon umumnya berupa nama desa, nama jalan, juga nama pasar.
Daerah Cirebon merupakan puasat penyebaran agama Islam di Jawa. Selain Sunan Gunung Jati, banyak pula ulama dan pengajar-pengajar penyebar agama Islam. Data toponimi yang memperkuat bukti ini, dengan diketahui adanya tempat dengan nama Pekalipan yang berasal dari kata Khalifah.
Pengaruh bahasa menentukan sebagai indikator dalam data toponimi, dengan banyaknya daerah Cirebon yang memakai bahasa pada awalan pe- atau ke- pada kata dasar. Awalan tersebut adalah pengaruh dari bahasa Jawa. Jika pengaruh bahasa Sunda adalah pada pengunaan awalan pa- atau ka-. Masyarakat kota Cirebon umumnya memang memakai bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Sedangkan bahasa lebih banyak dipakai oleh masyarakat yang tinggal di sebelah selatan kota.
Pengaruh bahasa pula yang menentukan ciri khas Cirebon. Sebuah kota dengan budaya multikultur. Dimana perbedaan, di kota ini, adalah perwujudan nyata dari rahmat illahi.
Terima kasih kepada sdr. Arif Kurniawan atas tulisannya sebagian kami sadur sebagai pelengkap isi blog ini.
Readmore »

Tuesday, September 8, 2009

Memitu Wujud Kasih sayang Ibu

Nama Upacara
Salah satu fase kehidupan manusia adalah fase kelahiran. Sebelum sampai pada fase kehalihan didahului dengan adanya kehamilan. Dalam masa kehamilan yang berlangsung selama sembilan bulan, khusus bagi kehamilan pertama, ada bulan-bulan tertentu yang oleh masyarakat dianggap perlu untuk dilakukan upacara. Upacara yang dimaksud adalah Upacara Memitu/Tingkeban. Istilah memitu berasal dari kata mitu atau pitu (bahasa Jawa) yang artinya tujuh. Maksudnya di sini adalah upacara yang dilaksanakan pada masa kehamilan menginjak tujuh (7) bulan.
Maksud dan Tujuan Upacara
Maksud dan tujuan dilaksanakannya upacara ini yaitu bersyukur kepada Tuhan karena rumah tangganya dibarokahi dengan diberi keturunan. Selain itu adalah memohon agar diberi keselamatan baik bagi si ibu maupun jabang bayi pada saat melahirkan nanti. Disamping juga memohon agar si jabang bayi lahir dengan tanpa cacat dan menjadi anak yang baik, dan membawa pengaruh sejahtera kelak hidup di dunia.
Waktu Penyelenggaraan Upacara
Pelaksanaan upacara memitu/tingkeban yaitu pada waktu usia kandungan tujuh bulan. Tepatnya dilaksanakan pada salah satu tanggal berikut yaitu: tanggal 7, 17 atau 27, disesuaikan dengan kesiapan yang bersangkutan.
Tempat Penyelenggaraan Upacara
Tempat penyelenggaraan upacara adalah di rumah pasangan yang bersangkutan atau di rumah orang tua salah satu pasangan. Lokasinya biasanya di luar rumah di tempat yang agak leluasa agar bisa dilihat oleh para tamu.
Teknis Penyelenggaraan Upacara
Upacara Memitu/Tingkeban dipimpin oleh seorang lebe atau sesepuh dari kaum alim ulama setempat. Pimpinan upacara biasanya membacakan doa syukuran dan membacakan surat Lukman, sekaligus menutupnya dengan doa Al Barokah.
Sedangkan upacara mandi dipimpin oleh dukun bayi atau paraji.
Pihak-Pihak yang Terlibat dalam Upacara
Pihak utama yang terlibat upacara adalah ibu yang sedang hamil tersebut dengan suaminya, orang tua kedua belah pihak, kerabat dari kedua belah pihak, lebe atau sesepuh yang akan memimpin upacara, dan dukun bayi atau paraji yang memimpin upacara mandi. Pihak lainnya adalah tetangga dan handai taulan dari kedua belah pihak.
Persiapan dan Perlengkapan Upacara
Persiapan pokok untuk melaksanakan upacara Memitu/Tingkeban adalah mempersiapkan sesaji, jarik tujuh (7) lembar, dan kelapa muda.
Sesaji yang dimaksud adalah:
-         Tumpeng jeneng
-         Nasi wuduk
-         Juwadah pasar
-         Rujak parud, rujak asem, rujak pisang, rujak selasih
-         Aneka buah dan umbi, dan tebu wulung
Jalannya Upacara
Sesajen tersebut di atas dihajatkan kepada para undangan. Setelah itu para undangan pulang, sambil pulang para undangan menghampiri ibu yang sedang diupacarai di tempat ia akan dimandikan oleh kaum ibu, biasanya yang sudah sepuh atau sesepuhnya.
Setelah para undangan pulang, ibu yang sedang hamil tersebut dimandikan sambil berganti ‘jarik’ kain panjang sebanyak tujuh (7) kali. Pada saat penggantian jarik yang ketujuh, kelapa muda yang telah digambari wayang dijatuhkan oleh dukun paraji/dukun bayi melalui jarik dan harus ditangkap oleh suami ibu yang hamil sebelum jatuh ke tanah.
Sumber:
 
versi lain menyebutkan 
Readmore »

Info Kerja Outsourching Bank

PT Outsourcing Indonesia membutuhkan kandidat untuk diposisikan sebagai :
  1. Asisten Mantri KUR (Usia max. 35 th)
  2. customer Service KUR (Usia max. 25 th)
Kulaifikasi umum :
  • pria/wanita
  • sehat jasmani & rohani
  • pendidikan min SLTA sederajat
  • tinggi badan pria min 165 cm, wanita min. 155 cm
  • berpenampilan menarik
  • kemampuan komunikasi baik, ramah dan service oriented
  • memiliki sepeda motor dan sim c (1)
  • menguasai komputer (ms word & excel)
  • bersedia menyimpan ijazah
  • mampu bekerja dengan target
persyaratan lamaran :
  • surat lamaran lengkap
  • daftar riwayat hidup/cv
  • ijazah
  • transkip nilai
  • akte lahir
  • kartu keluarga
  • surat keterangan sehat
  • surat keterangan catatan dari kepolisian
  • pas foto ukuran 3x4
  • foto seluruh badan
kirimkan lamaran ke:
PT. OUTSOURCING INDONESIA
JL. SRIPOHACI 16 MOCH. RAMDAN
BANDUNG 40253 (UP. Ibu Kiki)
Tlp. 022-5206137, Fax. 022-5206137
email : recruitmentoi@gmail.com
Readmore »

Cirebon Cutsourching

saya  lihat sekarang ini hampir semua bidang kerja di perusahaan-perusahaan menggunakan Outsourching, dari pegawai kelas bawah sampai kelas atas (maksud gw Pilot dan Pramugari) menggunakan Outsourhing.

Menguntungkan gak sih outsourching kepada kedua belah pihak (antara Perusahaan dan Pegawainya sendiri) ?
yang pro menjawab
menguntungkan dong...
perusahaan pengguna jasa outsourcing: dapet tenaga kerja ahli, gak perlu keluar duit buat training
perusahaan penyedia jasa outsourcing: dapet duit jasa
pegawai di perusahaan penyedia jasa outsourcing: dapat kesempatan kerja

yang kontra menjawab
ya merugikan:
terkikisnya loyalitas karyawan terhadap perusahaan
untuk posisi menengah ke bawah seperti receptionist, sales, buruh, ob, cleaning service dsb karyawan justru diperas habis-habisan, karena mareka rata-rata tidak memiliki daya tawar yg baik
yg mengalami pergeseran nilai:
jenjang karir. Awalnya jenjang karir dijalani pada perusahaan tempat kerja, tapi sekarang ada jenjang karir tambahan yaitu pada perusahaan outsourcing. Ini adalah pedang bermata dua. Kayrawan harus jeli, mana jenjang karir yang akan diikutinya

dikutip dari http://forum.detik.com

sebenarnya apa sih outsourching itu ? definisi dari outsourching adalah Melakukan kontrak dengan perusahaan lain yang dapat menyewa ahli teknik papan atas dengan mendistribusikan waktu mereka atas sejumlah kontrak. Perusahaan luar itu daoat menjalankan sebagian atau seluruh operasi TI perusahaan, yang mencakup jaringan, pusat data, pemeliharaan, dan atau pengembangan software.
Dari beberapa sudut pandang, outsourcing ini dianggap sebagai sarana untuk mengurangi biaya, menurunkan pekerjaan agar memungkinkan suatu perusahaan berkonsentrasi pada sejumlah aspek penting pengembangan dan penggunaan teknologi informasi, dan mengakses keterampilan yang mahal yang akan menjadi terlalu mahal jika harus diusahakan sendiri oleh perusahaan.
dikutip dari http://www.total.or.id/info.php?kk=Outsourcing
Readmore »

Friday, September 4, 2009

Mudun Lemah Sebuah Tradisi Kota Udang

Plumbon - Setiap orang tua pasti berharap anaknya mampu menjalani kehidupan di dunia dengan baik, lancar tak ada halangan. Berbagai usaha pun dilakukan. Selain menadahkan tangan berdoa kepada Sang Khalik, juga melaksanakan tradisi turun temurun.

Mudun lemah, demikian orang Curebon menyebut tradisi tersebut. Sebuah tradisi yang dilakukan orang tua untuk mengenalkan anak tercintanya yang berusia tujuh bulan kepada bumi. Mengiringi itu, kedua orang tua berharap anaknya mampu berdiri sendiri dalam menempuh kehidupan.
Tedak Siti merupakan tradisi yang harus dilakoni seorang bayi saat memasuki usia 7 bulan, saat itulah dipercaya bahwa sang bayi boleh menginjakkan kaki-nya ke bumi.

Pasangan Suami Istri biasanya menyiapkan segala kelengkapannya. Antara lain, nasi tumpeng lengkap dengan sayur mayur, bubur merah dan putih, jajan pasar lengkap, tetel (uli, Red) lima macam warna meliputi, merah, putih, hitam,hijau, jambon (jingga), dan bunga setaman.

Selain itu, juga tak ketinggalan tangga yang dibuat dari batang tebu merah hati, sangkar ayam yang dihiasi janur kuning atau kertas hias, padi, kapas, sekar telon (bunga tiga macam, melati, mawar dan kenanga), beras kuning, uang kertas dan recehan, barang yang bermanfaat, misalnya buku, alat-alat tulis dan sebagainya yang dimasukkan ke dalam sangkar.

Mengawali pelaksanaan tradisi itu, bayinya dimandikan air bunga setaman. Setelah selesai, anak dikenakan pakaian baru yang bagus. “Dimandikan itu maksudnya, agar bayi dapat menjalani kehidupan yang bersih dan lurus,” ungkap Ahmad, kemarin.
Kemudian anak dikirap agar kenal dengan lingkungan sekitar diiringin musik hadrah. Tak lama berselang, anak mulai dibimbing berjalan (dititah) dengan kaki menginjak lima ketan tetel. Hal itu, menurutnya, agar anak selalu ingat dengan tanah airnya. Belum cukup itu, anak tujuh bulan itu dinaikkan ke tangga yang dari tebu wulung.

“Naik tangga, agar ia mendapat kehidupan sukses dan dinamis setahap demi setahap,”
Berlanjut prosesi, anak dimasukkan ke dalam kurungan ayam. Di dalam kurungan telah dimasukkan benda bermanfaat, mulai dari buku, Alquran, uang, alat-alat tulis, dan mainan. Orang tua pun tinggal menunggu, benda apa yang diraih anaknya. Sebab, benda yang pertama kali diambil sang bayi akan melambangkan kehidupannya kelak.
Readmore »

Tahu petis kota udang Cirebon

Menjelang digelarnya tradisi Muludan, beberapa pedagang musiman sudah mulai menggelar aneka barang dagangannya. Mulai dari pakaian, kerajinan tangan, hingga beraneka ragam makanan. 
Tahu petis Cirebon adalah tahu goreng yang dimakan dengan saus yang berwarna hitam yang dinamakan petis. Tahu goreng tersebut seperti tahu pong tapi rasanya tidak asin. yaitu berasal dari tahu putih yang digoreng sampai kecoklatan tanpa dibumbui apapun. sedangkan petisnya berasa manis agak sedikit asin. agar menggugah selera tahu petis biasanya dimakan dengan cabai hijau. 
Dari bentuknya yang berupa segitiga karena memang dipotong melintang dari bentuk asalnya, tahu petis ini berbeda dengan tahu Sumedang atau tahu kuningan. Meskipun digoreng kering namun isi atau daging bagian dalam tahu masih terasa berisi atau tidak berongga. Karena terasa lebih berdaging itulah tahu goreng ini lebih enak dinikmati bersama petis atau cabe rawit. Ada pribahasa 

Mun ngaku wong Cerbon, bli afdol mun muludan bli tuku tahu petis. Artinya, kalau merasa jadi orang Cirebon, tidak afdol ke Muludan jika tidak membeli tahu petis



Readmore »